The Choice Overload

kenapa terlalu banyak pilihan justru membuat kita merasa tidak puas dengan hasil akhirnya

The Choice Overload
I

Pernahkah kita duduk di sofa pada Jumat malam, siap untuk bersantai, lalu membuka Netflix? Kita mulai menggulir layar. Ada ribuan film, serial dokumenter, hingga drama Korea terbaru. Layar terus bergulir. Menit berganti menit. Tanpa terasa, 45 menit sudah berlalu. Otak kita lelah, mata kita pegal, dan tebak apa yang akhirnya kita lakukan? Kita menutup aplikasi itu, atau ujung-ujungnya memutar ulang sitkom lama yang sudah kita tonton lima kali. Fenomena ini sungguh aneh. Kita hidup di era dengan kelimpahan opsi yang belum pernah ada sebelumnya. Dari menu makanan lewat aplikasi pesan-antar hingga pasangan kencan di ujung usapan jari. Namun, alih-alih merasa bebas, kita justru merasa terjebak, lelah, dan sering kali menyesali pilihan kita sendiri. Ada apa dengan otak kita? Mengapa kebebasan memilih yang selama ini didambakan umat manusia justru terasa seperti kutukan?

II

Mari kita mundur sejenak ke masa lalu. Secara historis, kebebasan memilih adalah kemewahan yang sangat langka. Selama ribuan tahun, nenek moyang kita tidak perlu pusing memikirkan menu makan siang. Mereka makan apa pun yang berhasil diburu atau dipetik hari itu. Di abad pertengahan, kita tidak pusing memilih jalur karier. Jika ayah kita seorang pandai besi, maka kita akan menjadi pandai besi. Pilihan adalah sesuatu yang hanya dimiliki oleh raja dan kaum bangsawan. Karena itu, sejarah manusia adalah sejarah perjuangan untuk mendapatkan kebebasan. Kita meyakini satu persamaan logika yang rasanya sangat masuk akal: lebih banyak pilihan berarti lebih banyak kebebasan, dan lebih banyak kebebasan pasti berujung pada kebahagiaan yang lebih besar. Revolusi industri dan kapitalisme modern akhirnya mewujudkan mimpi itu. Supermarket kini menawarkan puluhan jenis sereal. Namun, saat mimpi itu terwujud, kita justru menemukan sebuah kenyataan pahit yang berlawanan dengan ekspektasi sejarah.

III

Untuk memahami kejanggalan ini, teman-teman perlu tahu tentang sebuah eksperimen psikologi legendaris di tahun 2000. Bayangkan kita sedang berada di sebuah supermarket mewah. Seorang psikolog bernama Sheena Iyengar mendirikan sebuah meja cicip selai buah. Pada hari pertama, ia memajang 24 jenis selai yang eksotis. Pada hari kedua, ia hanya memajang 6 jenis selai. Logika ekonomi klasik pasti menebak bahwa meja dengan 24 selai akan jauh lebih laris, bukan? Faktanya sangat mengejutkan. Benar, meja dengan 24 selai menarik lebih banyak pengunjung yang penasaran. Namun, saat tiba waktunya untuk membeli, angka berbalik drastis. Hanya 3% orang yang membeli dari meja 24 selai. Sebaliknya, 30% orang membeli dari meja yang hanya menyediakan 6 selai. Penjualan meroket sepuluh kali lipat saat pilihan dipangkas! Pertanyaannya adalah, mengapa otak kita yang secara naluriah menyukai kelimpahan, justru mengalami kelumpuhan saat disuruh mengambil keputusan? Rahasianya ada pada harga tak kasat mata dari setiap pilihan yang kita buat.

IV

Di sinilah sains memberikan jawaban yang membuka mata. Fenomena ini disebut sebagai The Paradox of Choice atau kelimpahan pilihan. Saat kita dihadapkan pada 100 menu makanan, otak bagian prefrontal cortex kita harus bekerja ekstra keras memproses data. Ini menguras energi kognitif secara masif. Tapi bukan cuma itu masalah utamanya. Dalam psikologi dan ekonomi, ada konsep bernama opportunity cost atau biaya peluang. Saat kita memilih 1 film dari 100 pilihan di Netflix, kita tidak hanya mendapatkan 1 film. Secara psikologis, otak kita merasa sedang kehilangan 99 film lainnya. Semakin banyak pilihan, semakin besar rasa kehilangan yang diproses oleh otak. Ini merusak sistem hadiah atau reward system di otak kita. Hormon dopamin yang seharusnya menyemprotkan rasa puas setelah kita membuat keputusan, justru dibajak oleh rasa cemas. Kita mulai berpikir: "Bagaimana kalau pilihan yang tadi lebih enak? Bagaimana kalau film yang satunya lebih seru?" Ekspektasi kita meroket tak terkendali. Akibatnya, sebaik apa pun hasil dari pilihan kita, kita akan selalu merasa kurang puas karena membandingkannya dengan fantasi kesempurnaan dari pilihan-pilihan yang tidak kita ambil.

V

Kenyataan ilmiah ini sebenarnya sangat melegakan. Jika teman-teman sering merasa cemas atau menyesal setelah berbelanja online atau memilih tempat liburan, ketahuilah bahwa kita tidak sendirian. Otak evolusioner kita memang tidak dirancang untuk memproses ribuan opsi. Lalu, bagaimana kita bisa bertahan di dunia yang penuh sesak ini? Psikolog menyarankan kita untuk berhenti menjadi seorang maximizer—orang yang selalu terobsesi mencari pilihan paling sempurna. Alih-alih begitu, belajarlah menjadi seorang satisficer. Buatlah standar yang cukup baik untuk diri kita. Jika sebuah pilihan sudah memenuhi standar itu, ambil, dan berhentilah mencari tahu opsi lainnya. Batasi pilihan secara sadar. Beri diri kita hanya 3 pilihan restoran untuk makan malam, bukan memilah semua yang ada di aplikasi. Pada akhirnya, kebahagiaan sejati bukanlah tentang memiliki akses ke semua hal di dunia ini. Kebahagiaan adalah kemampuan kita untuk merasa cukup, dan berdamai dengan apa yang sudah ada di genggaman tangan kita.